Cara Memanage Karyawan
Menurut Kevin Dwyer, pendiri dari Change Factory – sebuah change
management consulting firm, untuk memanage performance dari karyawan /
staff anda diperlukan teknik dan attitude. Teknik pertama adalah
menetapkan “standard of performance”. Ini adalah standard minimum
dimana seseorang tidak boleh tidak harus mencapainya. Tak seorang
karyawan /staff pun yang boleh tidak mencapai standard ini tanpa harus
mengikuti konseling. Standard of performance ini meliputi hal-hal
seperti tingkat keselamatan personal dan team (team & personal
safety), kejujuran dan tingkat kehadiran. Standard of performance harus
juga meliputi ukuran-ukuran yang berhubungan langsung baik dengan
pekerjaan seseorang secara individual (individual work role) dan juga
tujuan dari organisasi (organization goal). Standard of performance yg
minimum harus ditetapkan untuk parameter-parameter seperti penyelesaian
proyek, tingkat penjualan, biaya, atau tingkat kualitas. Dengan tidak
menetapkan parameter-parameter seperti di atas, sama saja dengan
mengatakan pada karyawan/ staff anda bahwa tanggung jawabnya hanyalah
masuk kerja, tidak membahayakan keselamatan diri sendiri atau rekan
kerja, dan tidak mencuri.
Teknik kedua berhubungan dengan yang dijelaskan di atas, yaitu
menetapkan target untuk masing-masing karyawan / staff. Target ini
disetujui bersama untuk parameter-parameter yang sama ataupun
penjabaran lebih jauh dari parameter yang telah ditetapkan sebagai
standard of performance di atas. Target-target ini ditetapkan
berdasarkan kompetensi aktual atau kompetensi yang diharapkan dari
seorang karyawan. Sebagai contoh, seorang sales trainee tidaklah
diharapkan untuk menghasilkan tingkat penjualan seperti seorang sales
senior. Akan tetapi bagaimanapun juga mereka diharapkan untuk menjual.
Bila mereka tidak bisa melakukannya, maka mereka harus mempertimbangkan
profesi yang lain.
Teknik ketiga adalah memberi feedback dan coaching untuk
meningkatkan performance. Feedback haruslah dilakukan segera, saat
standard yang sudah ditetapkan dilanggar ataupun target tidak tercapai.
Feedback tersebut haruslah spesifik dan haruslah dikomunikasikan dalam
bahasa yang cocok dengan penerima feedback. Coaching dilakukan antara
lain dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menggunakan data
independent dan mengutarakan kelemahan/kekurangan karyawan dengan jelas.
Karyawan dapat juga diminta untuk secara jujur menilai performance diri
mereka sendiri dan membandingkannya dengan tingkat performance yang
ingin mereka capai. Selain itu, coaching juga harus menghasilkan
komitmen dari karyawan/ staff anda mengenai hal apa yang mereka siap
untuk berubah, support apa yang mereka butuhkan untuk melakukan
perubahan tersebut, dan jangka waktu untuk melakukan perubahan dimaksud.
Banyak orang yang berjuang mempelajari cara memberikan feedback dan
coaching, ketika mereka menjadi pemimpin. Akan tetapi, teknik saja
tidaklah cukup.
Memimpin orang untuk memberikan performance yang akan membuat sebuah
organisasi mencapai tujuannya, membutuhkan attitude yang benar dari
seorang pemimpin. Dalam memanage performance dari karyawan/ staffnya,
pemimpin tersebut haruslah bersifat insistent, persistent dan juga
consistent.
Bersifat insistent, berarti si pemimpin harus menuntut sebuah
standard of performance yang minimal. Dengan menuntut sebuah standard
minimal, batas antara yang dapat diterima dangan yang tidak dapat
diterima menjadi jelas. Jika sang pemimpin bersifat insistent, maka
para karyawan / staff akan mengatur sendiri perilakunya. Standard yang
dituntut harus meliputi juga indikator performance bisnis, bukan hanya
misalnya tingkat keamanan atau keselamatan saja.
Pemimpin juga harus bersifat persistent. Jika pemimpin hanya
menuntut pemenuhan standard bila sesuatu berjalan salah, atau karena
sesuatu hal saat itu mereka sedang menjadi perhatian, maka karyawan
akan menyadari bahwa sebenarnya tidak ada standard of performance.
Mereka tidak akan mengatur perilaku mereka melebihi kepercayaan mereka
sendiri tentang apa yang benar dan yang salah. Sekumpulan karyawan
seperti ini akan susah dimanage, dan sang pemimpin biasanya akan
mengeluh tentang bagaimana kultur perusahaan mencegah pencapaian tujuan.
Pemimpin harus memberikan target yang tepat, yang akan membuat
karyawan memberikan yang terbaik, dan kemudian memberikan feedback dan
coaching apabila target tersebut tidak tercapai atau standard telah
dilanggar.
Pemimpin juga harus consistent. Biarpun yang tidak mencapai target
adalah mereka yang selama ini mempunyai performance yang baik, sang
pemimpin tetaplah harus memberikan perlakuan yang sama. Di lain pihak
jika ada karyawan yang selama ini performancenya buruk, telah melakukan
perubahan dan berjuang memenuhi target dan memastikan tidak ada standard
yang dilanggar, hal ini bukanlah alasan untuk melakukan “wild
celebration” atau sebaliknya ketidakpedulian. Saat itulah waktunya
untuk memberikan penghargaan yang sama yang selayaknya diberikan sang
pemimpin bila ada karyawan yang menunjukkan perilaku seperti itu.
Memanage performance karyawan/ staff bukan hanya berkaitan dengan
perilaku mereka, tetapi juga berhubungan dengan perilaku sang pemimpin.
Sumber : http://www.infopeluangusaha.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=31
Tidak ada komentar:
Posting Komentar