Selamat menonton :)
Jumat, 03 April 2015
Tutorial Fungsi Absolut pada Excel
Kali ini saya akan memposting video tutorial yang telah saya buat bersama teman-teman kuliah saya.
Selamat menonton :)
Selamat menonton :)
Rabu, 01 April 2015
Tugas Wajib (Resolusi 10 Tahun Kedepan)
RESOLUSI 10 TAHUN KEDEPAN
Nama saya Putri Astri Lenggo Geni
dari kelas 1eb01. Saya ingin menceritakan tentang resolusi saya 10 tahun
kedepan. 10 tahun kedepan saya ingin membuka usaha kerudung bersama sahabat SMP
saya yang rencananya akan diberi nama DPR Corps yang artinya Dwi Putri Ray.
Kenapa saya ingin membuka bisnis
kerudung? Karena, sekarang sudah banyak wanita-wanita muslim yang berhijab dan
saya pikir membuka bisnis itu sangat menyenangkan. Dan dari hari kamis tanggal
26 maret 2015 kemarin saya dan kedua sahabat saya sudah mulai menjalankan bisnis tersebut dengan
modal yang kita tabung bersama-sama.
Saya juga ingin menerbitkan novel
yang saya buat. Karena, salah satu cita-cita saya dari kecil yaitu menjadi seorang
penulis. Untuk mewujudkan impian saya menjadi penulis, saya harus lebih giat
lagi untuk belajar dan mencoba membuat tulisan seperti cerpen, puisi lebih giat
lagi. Sekarang saya lagi membuat novel tentang kehidupan pribadi saya bersama
sahabat saya yang sudah meninggal.
Dan niatnya ketika saya sudah sukses menjadi
novelis, keuntungan dari menulis akan saya tabung untuk menambah modal usaha
saya di masa yang akan datang bersama sahabat-sahabat saya.
Selasa, 31 Maret 2015
Puisi Perjuangan
PERJUANGAN
Di masa penjajahan
Banyak daun-daun yang berguguran ke tanah
Dengan dibubuhi oleh tinta merah yang mencolok mata
Namun, tinta itu hilang
Karena dibasahi oleh berjuta-juta tetesan air hujan
Lalu, angin pun membawa daun itu
Ketempat yang sangat jauh
Berpuluh-puluh tahun batang ,akar dan matahari
Bekerja keras dan pantang menyerah
Demi melahirkan daun-daun baru yang sangat indah
Dan tibalah saatnya pada tanggal 17 Agustus 1945
Dimana berjuta-juta daun baru tumbuh
Menjadi daun yang sangat indah
Kini, daun pun berusaha keras
Untuk menjadi daun yang sangat berguna dan bisa
membuat batang,akar dan matahari bangga
Perjuangan batang,akar dan matahari takkan pernah
terlupakan
Karena batang,akar dan matahari lah
Daun bisa merasakan indahnya hidup di dunia ini
Tanpa merasakan pedihnya pengorbanan batang, akar
dan matahari
Dalam membuat Negara kita “MERDEKA” .
Sabtu, 14 Maret 2015
Tugas wajib (Sejarah Perekonomian Indonesia)
Sejarah Perekonomian
Indonesia
Dari
tahun ke tahun, Indonesia selalu mengalami perubahan sistem perekonomian yang
bertujuan untuk membuat perekonomian Indonesia menjadi lebih baik lagi daripada
tahun sebelumnya. Sistem perekonomian Indonesia adalah cara manusia
melaksanakan kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan atau memberikan kepuasan
pribadi. Keadaan perekonomian negara-negara berkembang tidak lepas dari
pengaruh :
Ø Sistem
perekonomian dan pola pembangunan ekonomi yang diterapkan.
Ø Pembangunan
infrastuktur fisik dan sosial
Ø Tingkat
pembangunan yang telah dicapai pada masa penjajahan. Seperti masa penjajahan
Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang.Portugis tidak meninggalkan jejak yang
mendalam pada Indonesia karena terburu diusir oleh Belanda. Di Belanda ada masa
Penjajahan VOC. Lalu di Inggris ada yang namanya Landrent (Pajak Tanah). Dan di
Pemerintahan militer Jepang menerapkan suatu kebijakan pengarahan sumber daya
ekonomi mendukung gerak maju pasukan jepang dalam perang Pasifik.
Di
Pemerintahan orde lama keadaan perekonomian sangat buruk karena inflasi yang
sangat tinggi, adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945,
kas negara kosong dan eksploitasi besar-besaran pada masa penjajahan. Pada
tahun 1945-1956 Indonesia menerapkan
prinsip demokrasi liberal, kekuasaan ada di
tangan sejumlah partai politik dan sering terjadi konflik yang menyebabkan
kehancuran perekonomian nasional. Pada tahun 1959-1967 Indonesia menerapkan
prinsip demokrasi terpimpin yang menjurus pada sistem etatisme (segala-galanya
diatur oleh pemerintah) akibat dari dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959.
Di
Pemerintahan orde baru stabilitas ekonomi dan stabilitas politik menjadi
prioritas utama. Program pemerintah berorientasi pada usaha pengendalian
inflasi, penyelamatan keuangan negara, dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Selain
itu, pemerintah juga menyusun Repelita secara bertahap dengan target yang
jelas, IGGI juga membantu membiayai pembangunan ekonomi Indonesia. Dampak
Repelita terhadap perekonomian Indonesia cukup mengagumkan, terutama pada
tingkat makro, pembangunan berjalan sangat cepat dengan laju pertumbuhan
rata-rata pertahun yang relative tinggi. Keberhasilan pembangunan ekonomi di
Indonesia pada dekade 1970-an disebabkan oleh kemampuan kabinet yang dipimpin
presiden dalam menyusun rencana, strategi dan kebijakan ekonomi, tetapi juga
berkat penghasilan ekspor yang sangat besar dari minyak tahun 1973 atau 1974,
juga pinjaman luar negeri dan peranan PMA terhadap proses pembangunan ekonomi
Indonesia semakin besar. Akibat peningkatan pendapatan masyarakat, perubahan
teknologi dan kebijakan Industrialisasi sejak 1980-an, ekonomi Indonesia
mengalami perubahan struktur dari Negara agrarsi ke Negara semi industri.
Di
masa reformasi Sejak juli 1997 rupiah
mulai tidak stabil dan mulai menggoncang perekonomian nasional. Pada oktober
1997 Indonesia meminta bantuan keuangan IMF, nilai tukar rupiah terus melemah
dari awalnya Rp. 2.500 per dollar AS sampai mencapai Rp. 15.000 per dollar AS,
hal ini menyebabkan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia yang akhirnya juga
memunculkan krisis politik ditandai dengan turunnya presiden Soeharto pada
tanggal 21 Mei 1998 digantikan oleh wakilnya BJ Habibie. Pemerintahan presiden
BJ.Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan manuver-manuver yang
cukup tajam dalam bidang ekonomi. Kebijakan-kebijakannya diutamakan untuk
mengendalikan stabilitas politik.
Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun,
belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari
keterpurukan. Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru
harus dihadapi, antara lain masalah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme),
pemulihan ekonomi, kinerja BUMN, pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs
rupiah. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan
kredibilitasnya di mata masyarakat. Akibatnya, kedudukannya digantikan oleh
presiden Megawati.
Kabinet
Gotong Royong pimpinan Megawati menghadapi keterpurukan kondisi ekonomi yang
ditinggal Gusdur seperti tingkat suku bunga, inflasi saldo neraca pembayaran
dan deficit APBN. Di masa ini
direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi belum ada
gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. Padahal keberadaan korupsi
membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia,
dan mengganggu jalannya pembangunan nasional. Pada pemerintahan Megawati mulai
tahun 2002 dan di tahun 2003 kondisi makro ekonomi semakin membaik yakni
inflasi, tingkat suku bunga turun, kurs rupiah stabil, stabilitas politik
tercipta dan roda perekonomian dapat roda perekonomian dapat bergerak kembali.
Kebijakan presiden SBY adalah mengurangi subsidi BBM,
atau dengan kata lain menaikkan harga BBM. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh
naiknya harga minyak dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor
pendidikan dan kesehatan, serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Kebijakan lain yaitu Bantuan Langsung Tunai (BLT)
bagi masyarakat miskin, PNPM Mandiri dan Jamkesmas. Bank Indonesia menetapkan
empat kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini,
yakni BI rate, nilai tukar, operasi moneter dan kebijakan makroprudensial untuk
pengelolaan likuiditas, serta makroprudensial lalu lintas modal.
Sumber :
Tugas Bebas (Cerpen Melodi Cinta)
MELODI CINTA
Ku
buka pintu di pagi hari, lalu ku dengar
suara burung-burung yang sedang bernyanyi, dan ku lihat bunga-bunga yang sedang
tersenyum melihat semangatku di pagi hari ini. Dengan menggunakan seragam SMA,
ku langkahkan kaki menuju sekolah. Di tengah perjalanan ku dengar seseorang
sedang memainkan alunan musik biola dengan sangat merdunya. Tanpa ku sadari,
kakiku tak melangkah menuju sekolah melainkan menuju asal suara itu.
Kakiku
terhenti disebuah taman yang tak jauh dari rumahku. Ku lihat seorang pria
dengan menggunakan seragam SMAnya sedang memainkan biola. Namun, aku tak bisa
melihat wajah pria itu karena ia membelakangiku.
Ketika
kakiku melangkah untuk mendekati pria itu, tiba-tiba saja pria itu menghilang.
Aku terus mencoba mencari keberadaan pria itu. Namun, aku tak berhasil
menemukannya. Tanpa ku sadari, waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh.
Aku pun langsung bergegas untuk pergi ke sekolah. Kakiku terus berlari, hati
dan pikiranku terus berkata “Mampus..mampus gua telat nih, ah elah masa baru
hari pertama gua udah telat sih!”.
Tepat
pukul tujuh aku tiba di gerbang sekolah yang sudah ditutup. Aku terus mencari
akal agar aku bisa masuk ke dalam. Terlintas dipikiranku untuk memanjat pintu
gerbang belakang sekolah. Aku memanjat dengan penuh rasa takut karena ini,
adalah pertama kalinya aku memanjat. Ketika ku sampai di atas gerbang, rasa
takutku bertambah sehingga aku kehilangan keseimbangan otomatis aku terjatuh
sambil menutup mata. Dan ketika ku membuka mata, aku melihat seorang pria tampan
yang sedang menggendongku sambil berkata “Eh lu gimana sih mau nyari mati apa ?
pakai manjat-manjat segala udah tau lu cewe”. Aku pun langsung menyuruh pria
itu untuk melepaskan pegangannya sambil berkata “suka-suka gua lah masbuloh”.
“Udah
ditolongin bukannya bilang makasih”ujar pria itu. “Ngapain gua bilang makasih
ma lu. Eh mampus gua kan udah telat”Sahutku sambil berlari meninggalkan pria
itu. Setibanya di kelas, aku langsung mendapatkan sebuah hadiah yang sangat
indah banget yaituu....”Vania...baru hari pertama masuk sekolah kamu sudah
telat saja. Sekarang bapak tak mau tahu kamu sekarang harus berjemur di
lapangan sampai 1 jam mata pelajaran. SEKARANG!!!”Ujar pak Ilham yang statusnya
sekarang menjadi wali kelasku.
Aku
pun langsung pergi menuju lapangan dengan muka yang sangat bete. Dan disetiap
langkahku menuju lapangan aku terus mengoceh “Bego banget sih gua coba aja gua
ga nyari tahu tentang cowo itu pasti gua ga bakal telat nih ah elahh..”. Baru
15 menit berjemur rasanya badanku sudah lemes banget. Rasanya aku ingin sekali
duduk. Tapi, aku mencoba untuk sugesti diri aku agar aku tidak capai. Namun,
tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap.
Ketika
ku membuka mata, aku sudah berada di dalam ruangan UKS bersama dengan pria yang
tadi pagi nolongin aku ketika aku jatuh dari atas gerbang. “Akhirnya lu sadar
juga”Sahut pria itu. “Gua kenapa ?”Tanyaku. “Ya ampun pakai nanya segala lagi,
jelas-jelas lu pingsan tadi makanya gua bawa kesini”Jawab pria itu. “Ohh gitu
ya makasih ya udah nolongin gua”Ujarku. “Iya sama-sama. Oh iya nama gua Yudha
anak 12 IPA 2. Nama lu siapa?” tanya pria itu. “Nama gua Vania anak 12 IPS
3”Jawabku.
Tiba-tiba
saja bel berbunyi dan itu tandanya sudah memasuki jam pelajaran ke 5. “Ha? Udah
jam ke-5 berarti gua pingsannya lama juga dong!”Ucapku dalam hati. “Sorry ya
gua ada pelajaran seni musik sekarang. Jadi, gua harus pergi.”Ujar Yudha sambil
pergi meninggalkan ruangan UKS.
Ketika
Yudha sudah jauh aku baru ingat, kalau aku ingin bertanya ke dia kenapa Yudha
selama ini tidak pernah terlihat di sekolah ini. “Ini apa gua yang ga gaul apa
emang Yudhanya yang gak pernah keliatan”Ujarku dalam hati.
Setelah
10 menit di UKS sendirian, aku memutuskan untuk balik ke kelas. Di perjalanan
menuju kelas, aku mendengar suara alunan musik biola yang tadi pagi ku dengar
dan asal suara itu berasal dari ruang aula. Langsung ku langkahkan kakiku
menuju ruang aula itu. Namun, tinggal beberapa langkah lagi ku melihat siapa
orang yang sedang memainkan alunan musik itu, kakiku tersandung dan spontan ku
berteriak.
Tiba-tiba
saja ku melihat ada orang yang berlari dengan cepatnya keluar dari ruang aula.
Kalau bisa diibaratkan orang itu seperti maling jemuran yang sedang ketangkap
basah mencuri. Aku terus mencoba mengejar orang itu dengan kaki yang masih
sedikit sakit. Alhasil, aku gagal lagi mengetahui siapa orang itu. Aku pun
masuk ke dalam kelas dengan wajah yang sangat lelah. “Na lu masih sakit ya ?
kok mukanya lelah gitu”tanya Karina salah seorang sahabat terbaikku. “Gua ga
kenapa-napa kok. Cuma capek aja habis lari ngejar orang”Jawabku. “Ngejar
siapa?”Tanya Karina. “Entar gua ceritain deh soalnya gurunya udah datang. Udah
lu balik gih ke tempat duduk lu”Jawabku sambil menyuruh Karina balik ke tempat
duduknya.
Waktu
demi waktu ku lalui hari ini disekolah. Tak terasa, sekarang sudah waktunya
pulang ke rumah. Tapi, aku dan Karina tidak langsung pulang melainkan pergi ke
Mall yang tak jauh jaraknya dari sekolah. Di sepanjang perjalanan aku
menceritakan semua kejadian yang aku alami dari tadi pagi ke Karina. Karina pun
hanya memberikan respon “Oh” dan “sabar ya”
kepadaku. Aku sudah hafal banget, kalau Karina hanya memberikan respon
itu pasti Karina tidak mengerti sama apa yang aku ceritakan.”Daripada ribet dan
gua harus jelasin ulang mending gua iya-in aja deh”Ucapku dalam hati sambil
senyum-senyum tidak jelas ke Karina.
Di Mall aku dan Karina bertemu
dengan Adit. Adit adalah laki-laki yang dari dulu sampai sekarang suka sama
aku. Namun, cintanya adit selalu ku tolak. Rasanya, aku ingin langsung pulang
karena mood aku sudah jelek banget.Tanpa pikir panjang, aku langsung menarik
tangan Karina dan kita langsung pulang ke rumah. “STOPP....!! ini lu kenapa
narik-narik tangan gua ? kan sakit tahu”Ujar Karina dengan gaya bicaranya yang
khas. “Gua ga mau ngobrol dan ketemu ma Adit”Jawabku. “Ohhh yasudah lanjutkan
perjalanan pulang kita hehe”Ujar Karina sambil menarik tanganku.
Seminggu sudah berlalu dan dalam seminggu
ini aku selalu mendengar suara alunan musik biola di taman. Namun, aku masih
penasaran sama orang yang memainkan biola itu. Di sekolah pas pelajaran
olahraga aku lagi-lagi mendengar suara alunan musik biola itu lagi di ruang
aula. Aku pun langsung pergi menuju aula.
Betapa terkejutnya aku, ketika
mengetahui bahwa yang selama ini memainkan alunan musik itu adalah Adit.
“Adit..OMG jadi, selama ini dia orang yang aku cari dan yang juga bikin hati
gua tenang ketika mendengar alunan musiknya. Oh No”Ucapku terheran-heran.
Aku pun langsung berlari dengan
sangat cepatnya sampai aku harus menabrak Yudha. “Lu punya mata ga sih! Kalau
jalan liat-liat dong”Ucap Yudha dengan nada tingginya. Tanpa ku sadari air mata
sudah membasahi seluruh mukaku karena aku memang tidak bisa di marahi dengan
nada tinggi. Yudha yang melihat aku menangis langsung menghapus air mataku
dengan tisu sambil berkata “sudah.. jangan nangis”dengan lembutnya. Mendengar kata-kata Yudha barusan membuat
hatiku jadi deg-deg-an sehingga membuatku bingung. “Eh buset dah gua ngapa
nih..kok jadi deg-deg-an gini ya. Aduhh kenapa nih?”Ucapku dalam hati dengan
heran. “Yaudah maafin gua ya, gua ga ada maksud marahin lu kok. Maaf ya.”Ujar
Yudha sambil pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa menunjukkan muka pongo sambil
berkata iya.
Aku pun berjalanan menuju lapangan
dengan wajah yang sangat heran. “Lu kenapa Vania”tanya Karina. “Gua rasa gua
jatuh cinta nih”Jawabku dengan polos. Karina yang mendengar jawabanku langsung
menertawakanku. Aku pun tak mempedulikan itu karena yang ada dipikiranku hanya
2 yaitu Adit dan Yudha. Aku berniat seusai pulang sekolah untuk mencari tahu apa benar Adit adalah pria
yang aku cari selama ini. Karena rasanya itu semua mustahil banget Adit bisa
bermain biola. Setahu aku Adit itu paling anti sama yang namanya alat musik.
‘”Hai cantik..mau kemana kamu”Ujar
Adit yang sangat menggangu suasana bengong aku saja. “Ihh bikin kaget aja sih.
Suka-suka gua lah mau kemana emangnya gua harus 24 jam gitu ngasih tau lu kalau
gua mau jalan. Lagian ini juga masih di sekolah”Sahutku dengan sinis. “Ya
jangan gitu dong kamu cantik”Bujuk Adit. “Au ah gelap”Tegasku sambil pergi ke
kantin meninggalkan Adit. “Cantik..cantikk tunggu. Ah elah liat aja gua pasti
akan mendapatkan lu Vania”Ucap Adit.
Di kantin aku hanya bisa
marah-marah. Aku tahu kalau Karina sebenarnya udah bingung banget sama ceritaku
karena kelihatan dari ekspresi wajahnya. Tapi, aku terus melanjutkan ceritaku
sampai aku puas. Tak terasa bel berbunyi, setelah pelajaran olahraga sekarang
adalah pelajaran Bahasa Inggris. Dan sungguh malasnya aku mengikuti pelajaran
itu.
Menit demi menit, jam demi jam
kulalui di sekolah tak terasa bel pulang pun berbunyi. Hari ini aku tak bisa pulang
bareng sama Karina karena dia dijemput sama ayahnya. Jadi, terpaksa deh aku
pulang sendiri. Ketika ingin keluar dari gerbang, Yudha muncul dihadapanku dan
mengajakku pulang bareng naik motornya. “Daripada gua pulang sendiri mending
pulang sama Yudha”Ucapku dalam hati.
Aku sama Yudha tak langsung pulang
ke rumah karena kita mampir dulu di taman sambil makan mie ayam. Dari awal aku
jalan sama Yudha jantungku tak berhenti deg-deg-an. Karena keasyikkan bengong
akhirnya Yudha menghilang entah kemana. Aku hanya bisa berteriak memanggil namanya.
Tiba-tiba saja, di depan mukaku
banyak sekali gelembung-gelembung. Ketika aku menengok ke belakang sambil berkata dalam hati“OMG..Yudha ihh so
sweet”. “Gelembung ini gua kasih ke lu supaya lu ga bengong terus dan gua juga
tahu kalau lu pasti lagi ada masalah ya”Ujar Yudha. Aku hanya diam tanpa ada
sepatah kata pun keluar dari mulutku. “Yasudah kalau ga mau cerita juga ga
kenapa-kenapa”Ujar Yudha sambil menarik tanganku dan mengajakku main gelembung
di taman.
Au benar-benar sangat senang
sekarang. Kalau dipikir-pikir udah lama aku tidak tertawa selepas ini. Yudha
yang melihatku tertawa hanya bisa tersenyum manis saja. Tak terasa waktu sudah
menunjukkan pukul 17.00. Yudha pun langsung bergegas mengantarkanku pulang.
Setibanya di rumah aku langsung
masuk kamar sambil senyum-senyum bahagia sambil berkata “Gua rasa kayaknya gua
beneran jatuh cinta sama Yudha nih”. Aku pun terus memikirkan Yudha sambil
membuat puisi cinta.
5 Bulan sudah aku kenal Yudha dan 5
bulan sudah aku dan Yudha menjadi dekat. Walaupun, aku dan Yudha masih sering
berantem. Hari ini adalah acara pensi di sekolahku. Dan betapa kesalnya aku
ketika tahu kalau Adit juga ikut menjadi pengisi acara. Tapi, aku juga senang
karena Yudha juga termasuk pengisi acaranya.
“Cieee kayaknya semangat banget
nunggu penampilannya Yudha hahaha”Ledek Karina. “Ah apaan sih Kar, gua biasa
aja tuh hehe”Sahutku sambil malu-malu. “Eh..eh.. liat tuh acaranya udah mulai
dan haha cieee penampilan pertama dibuka oleh Adit dan Yudha”Ujar Karina.
“Mereka battle biola”Pikirku dengan heran.
Adit lebih dulu memainkan alunan musik
biolanya dan lagi-lagi alunan musik itu yang Adit mainkan. Tiba-tiba insiden
pun terjadi. Yudha memberhentikan permainan musik biola Adit dan mengatakan
kalau alunan musik itu adalah lagunya Yudha. Ini benar-benar membuatku bingung.
Sehingga aku memutuskan untuk naik ke atas panggung sambil mengatakan
“Sebenarnya siapa yang punya alunan musik indah ini. Please jujur sama gua,
jangan bikin gua bingung kayak gini. Asal kalian berdua tahu alunan musik ini
sangat berarti buat gua”. “Ini gua yang ciptain dari dulu”Ujar Yudha. “Bohong Viana
cantik ini alunan musik punya gua, gua yang ciptain”Sahut Adit.
Suasana makin memanas. Aku benar-benar
bingung harus bagaimana?. Tiba-tiba datang salah satu murid anak kelas 11 ke
atas panggung dengan polosnya mengatakan “Kak Adit..maaf ya kak tadi aku salah
ambil CD. Jadi, yang tadi kak Adit pakai alunan musik biolanya belum selesai”.
“Apa Dit? Apa yang dibilang adek kelas ini benar?”Tanyaku bingung. “Ehm..ehm...anu..anu..iya
Viana yang dibilang adek kelas ini benar. Maafin gua ya”Jawab Adit dengan
grogi.
Spontan anak-anak satu sekolah
menyoraki Adit dan membuat Adit malu sehingga Adit akhirnya turun dari atas
panggung. Di atas panggung hanya ada aku dan Yudha. Tanpa berpikir panjang
Yudha langsung memainkan alunan musik biolanya dengan merdu.
Di tengah-tengah permainannya Yudha
menyempatkan diri untuk bertanya kepadaku “Na apa benar yang lu bilang tadi.
Kalau, alunan musik ini sangat berarti buat lu”. “Ehmm...iya”Jawabku malu-malu.
Tiba-tiba saja, Yudha berjongkok
dihadapanku sambil meneruskan alunan musik biolanya. Aku pun langsung
menyuruhnya untuk berdiri. Namun, Yudha tetap melanjutkan permainnya sambil
berjongkok dihadapanku.
Tak lama kemudian “Viana selama gua
kenal sama lu, hati gua selalu nyaman. Gua nyaman liat senyum lu gua nyaman
dengar suara lu. Baru pertama kali gua merasakan ini Na. Dan di depan
murid-murid serta guru-guru SMA Purnama Maukah engkau menjadi pacarku?”sambil
meneruskan alunan musik biolanya. “Ehmm..gimana ya ehm...sebenarnya tanpa gua
jawab juga lu udah tahu kok kalau gua pasti bakal jawab iya gua mau jadi pacar
lu Yudha”.
Yudha pun memberhentikan permainan
biolanya dan langsung memeluk aku sambil mengatakan “I Love You Viana”.
_THE
END_
Rabu, 21 Januari 2015
Tugas 6 (Pendidikan Konsumen)
- A. Pendahuluan
Sallis (2002:28) menyatakan a customer focus is, however, not by itself a sufficient condition for ensuring total quality. TQM organizations need fully worked out strategies for meeting their customer’s requirements. Education faces a considerable challenge in its relationships with its external customers. Fokus terhadap pelanggan saja bukan berarti telah memenuhi tuntutan dan persyaratan mutu terpadu. Organisasi TQM memerlukan strategi yang berjalan untuk memenuhi keperluan pelanggan. Lembaga pendidikan menghadapi tantangan yang cukup besar dalam hubungannya dengan para pelanggan.
Pelanggan memiliki fungsi yang unik dalam menentukan mutu apa yang mereka terima dari lembaga pendidikan. Sebagian besar pelanggan pada mulanya tidak menerima informasi yang cukup tentang layanan yang ditawarkan dan hal apa yang mengindikasikan mutunya. Selain itu harapan para pelanggan sangar beraneka ragam dan terkadang bertentangan dengan satu sama lainnya. Berdasarkan uraian tersebut maka fokus pada pelanggan merupakan salah satu bagian dalam organisasi pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
- B. Konsep Pelanggan
Tjiptono dan Diana (2003:100) berpendapat pelanggan merupakan orang yang berinteraksi dengan perusahaan setelah proses menghasilkan produk. Sedangkan pihak-pihak yang berinteraksi dengan perusahaan sebelum tahap proses menghasilkan produk disebut sebagai pemasok. Berdasarkan pandangan tradisional pelanggan dan pemasok merupakan entitas eksternal.
Pendidikan telah didefinisikan sebagai penyedia jasa, yang meliputi biaya pendidikan, penilaian dan bimbingan bagi peserta didik, orang tua peserta didik, dan para pendukung (Supriyanto, 1999:25). Lebih lanjut Supriyanto (1999:25) mengklasifikasi pelanggan dalam bidang pendidikan adalah pelanggan primer, sekunder, dan tersier. Pelanggan primer adalah mereka yang langsung menerima jasa pendidikan tersebut yaitu peserta didik. Pelanggan sekunder adalah mereka yang mendukung pendidikan seperti orang tua dan pemerintah. Pelanggan tersier adalah mereka yang secara tidak langsung memiliki andil, tetapi memiliki peranan penting dalam pendidikan (selaku pemegang kebijakan) seperti pegawai, pemerintah, dan masyarakat.
Adanya perbedaan pelanggan ini maka diperlukan suatu perhatian khusus dari lembaga pendidikan terhadap keinginan pelanggannya. Hal ini penting untuk mengembangkan mekanisme pelayanan pendidikan yang diberikan. Jika perhatian khusus terhadap perbedaan yang ada diabaikan oleh lembaga pendidikan, maka akan berdampak pada kehilangan pelanggan potensial.
Berdasarkan pandangan TQM menurut Tjiptono dan Diana (2003:100) pelanggan dan pemasok ada di dalam dan di luar organisasi. Pelanggan eksternal adalah orang yang membeli dan menggunakan produk perusahaan. Pemasok eksternal adalah orang di luar organisasi yang menjual bahan baku, informasi, atau jasa kepada organisasi. Supriyanto (1999:27) mengemukakan dalam bidang pendidikan, pelanggan internal adalah pegawai sekolah, sedangkan pelanggan eksternal adalah peserta didik. Fokus utama dari lembaga pendidikan ialah pada pelanggan eksternal (peserta didik).
Sedangkan di dalam organisasi juga ada pelanggan internal dan pemasok internal. Misalnya dalam suatu lembaga pendidikan, guru A sebagai guru mata pelajaran biasa dan Guru B sebagai wali kelas. Guru B sebagai wali kelas memiliki tugas memasukkan nilai ujian siswa ke dalam rapor dan guru A sebagai guru mata pelajaran yang memiliki tugas menilai siswa dan hasilnya dilaporkan kepada guru B untuk dimasukkan ke dalam rapor.
Berdasarkan ilustrasi tersebut guru A merupakan pemasok bagi guru B dan guru B sendiri merupakan pelanggan bagi guru A. Guru B sebagai wali kelas tidak dapat melakukan pekerjaannya dengan baik bila guru A tidak melakukan pekerjaannya dengan baik pula. Kualitas pekerjaan guru A mempengaruhi guru B. Konsep ketergantungan (dependency) seperti ini penting dalam hubungan pemasok dengan pelanggan.
- C. Kepuasan Pelanggan
Band (1991) berpendapat kepuasan pelanggan merupakan suatu tingkatan di mana kebutuhan, keinginan, dan harapan dari pelanggan dapat terpenuhi yang akan mengakibatkan terjadinya pembelian ulang atau kesetiaan yang berlanjut. Gerson (1993:5) mengemukakan customer satisfaction it is the customer’s perception that his or her expectations have been met or surpassed. Kepuasan pelanggan adalah persepsi pelanggan tentang harapannya apakah telah sesuai atau melebihi dari yang diharapkannya terhadap suatu organisasi. Disimpulkan kepuasan pelanggan adalah sejauh mana kinerja produk memenuhi harapan pemakai. Jika kinerja produk lebih rendah daripada harapan pelanggan, maka pembelinya tidak puas. Bila prestasi sesuai atau melebihi harapan, maka pembelinya merasa puas.
Tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dan harapan (Kotler, 1997). Dengan demikian, harapan pelanggan melatarbelakangi mengapa dua organisasi pada jenis bisnis yang sama dapat dinilai berbeda oleh pelanggannya. Dalam konteks kepuasan pelanggan, umumnya harapan merupakan perkiraan atau keyakinan pelanggan tentang apa yang akan diterimanya. Harapan mereka dibentuk oleh pengalaman pembelian dahulu, komentar teman dan kenalannya serta janji dari organisasi tersebut. Harapan-harapan pelanggan ini dari waktu ke waktu berkembang seiring dengan semakin bertambahnya pengalaman pelanggan.
Adanya kepuasan pelanggan dapat memberikan beberapa manfaat, yaitu menurut Tjiptono (2004:9) adalah 1) terjalin hubungan yang harmonis antara organisasi dan pelanggan, 2) memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang, 3) mendorong terciptanya loyalitas pelanggan, 4) membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut (word of mouth) yang menguntungkan bagi organisasi, 5) reputasi perusahaan menjadi baik di mata pelanggan, dan 6) laba yang diperoleh dapat meningkat.
Pelanggan merupakan penerima hasil kerja suatu organisasi, sehingga merekalah yang dapat menentukan kualitasnya seperti apa dan hanya mereka yang dapat menyampaikan apa dan bagaimana kebutuhan mereka. Hal ini merupakan penyebab munculnya slogan kualitas dimulai dari pelanggan.
Ada beberapa unsur penting menurut Tjiptono dan Diana (2003:103) di dalam kualitas yang ditetapkan pelanggan, yaitu 1) pelanggan haruslah merupakan prioritas utama organisasi, kelangsungan organisasi tergantung pada pelanggan, 2) pelanggan yang dapat diandalkan merupakan pelanggan yang paling penting, pelanggan yang dapat diandalkan adalah pelanggan yang membeli/memakai produk secara berulang/berkali-kali dan pelanggan yang merasa puas terhadap produk organisasi, dan 3) kepuasan pelanggan dijamin dengan menghasilkan produk berkualitas tinggi, kepuasan berimplikasi pada perbaikan terus-menerus sehingga kualitas harus diperbaharui setiap saat agar pelanggan tetap puas dan loyal.
Kepuasan pelanggan merupakan prioritas paling utama dalam organisasi TQM, sehingga organisasi harus memiliki fokus pada pelanggan. Kunci untuk membentuk fokus pada pelanggan adalah menempatkan pegawai untuk berhubungan dengan pelanggan dan memberdayakan mereka untuk mengambil tindakan yang diperlukan dalam rangka memuaskan pelanggan. Unsur penting dalam pembentukan fokus pada pelanggan adalah interaksi antara pegawai dan pelanggan.
Pemantauan dan pengukuran kepuasan pelanggan juga menjadi hal yang esensial bagi setiap organisasi. Hal ini dikarenakan langkah tersebut dapat memberikan umpan balik dan masukan bagi keperluan pengembangan dan implementasi strategi organisasi dalam peningkatan kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan dapat diukur dengan berbagai metode. Beberapa macam metode dalam pengukuran kepuasan pelanggan menurut Kotler dalam Tjiptono dan Diana (2003:104-105) adalah:
- Sistem keluhan dan saran, organisasi yang berpusat pada pelanggan (customer centered) memberikan kesempatan yang luas kepada pelanggan untuk menyampaikan saran dan keluhan, misalnya menyediakan kotak saran dan customer hot lines. Informasi yang dihimpun dapat digunakan sebagai dasar pengembangan ide organisasi dan bereaksi secara tanggap dan cepat untuk mengatasi masalah yang terjadi,
- Ghost shopping, salah satu untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa orang untuk berperan atau bersikap sebagai pembeli potensial, kemudian melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk organisasi dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian/pemakaian produk. Selain itu para ghost shopper juga dapat mengamati cara penanganan setiap keluhan,
- Lost customer analysis, organisasi seyogyanya menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat memahami latar belakang hal itu terjadi,
- Survey kepuasan pelanggan, umumnya penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan dengan penelitian survey dan menggunakan teknik wawancara. Hal ini karena dengan survey organisasi akan memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan memberi tanda (signal) positif bahwa organisasi memiliki perhatian terhadap pelanggan.
Beberapa dimensi pengukuran kepuasan pelanggan yang sering dipakai adalah 1) responsiveness (ketanggapan), kemampuan untuk menolong pelanggan dan ketersediaan untuk melayani pelanggan dengan baik, 2) reliability (keandalan), kemampuan untuk melakukan pelayanan sesuai yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan, 3) emphaty (empati), rasa peduli untuk memberikan perhatian secara individual kepada pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan, dan pengetahuan untuk dihubungi, 4) assurance (jaminan) pengetahuan, kesopanan petugas, dan sifatnya yang dapat dipercaya sehingga pelanggan terbebas dari risiko, dan 5) tangibles (bukti langsung), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan karyawan, dan sarana komunikasi.
Bentuk metode Performance Importance Matrix untuk mengukur kepuasan pelanggan adalah:
- Traditional Approach, berdasarkan pendekatan ini pelanggan diminta memberikan penilaian atas masing-masing indikator produk atau jasa yang mereka nikmati (pada umumnya menggunakan skala Likert) yaitu dengan cara memberikan rating dari 1 (sangat tidak puas) sampai 5 (sangat puas), selanjutnya dihitung nilai rata-rata tiap variabel dan dibandingkan dengan nilai secara keseluruhan,
- Analisis Secara deskriptif, seringkali penilaian kepuasan pelanggan tidak hanya berhenti sampai diketahui puas atau tidak puas, yaitu dengan menggunakan analisis statistik secara deskriptif, misalnya melalui penghitungan nilai rata-rata, nilai distribusi, dan standar devisiasi,
- Analisis Importance and Performance Matrix (IPM), konsep ini mengukur tingkat kepentingan pelanggan (customer expectation) diukur dalam kaitannya dengan apa yang seharusnya dikerjakan oleh suatu organisasi agar menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas tinggi. Lebih rinci hubungan importance (kepentingan pelanggan) dengan performance (penampilan kinerja) seperti pada Gambar 1.
Kuadran I focus effort here (prioritas utama/attributes to improve), kinerja suatu variabel adalah lebih rendah dari keinginan konsumen sehingga kinerja organisasi harus ditingkatkan agar optimal. Kuadran I merupakan wilayah yang memuat faktor-faktor dianggap penting oleh pelanggan tetapi pada kenyataannya faktor-faktor ini belum sesuai seperti yang di harapkan (tingkat kepuasan yang diperoleh masih sangat rendah). Variabel-variabel yang masuk dalam kuadran ini harus ditingkatkan. Caranya adalah organisasi melakukan perbaikan secara terus menerus sehingga performance variable yang ada dalam kuadran ini akan meningkat.
Kuadran II maintain performance (kinerja dipertahankan), kinerja dan keinginan konsumen pada suatu variabel berada pada tingkat tinggi dan sesuai, sehingga organisasi cukup mempertahankan kinerja variabel tersebut. Kuadran II merupakan wilayah yang memuat faktor-faktor yang dianggap oleh pelanggan sudah sesuai dengan yang dirasakannya sehingga tingkat kepuasannya relatif lebih tinggi. Variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran ini harus tetap dipertahankan karena semua variabel ini menjadikan produk/jasa tersebut unggul di mata pelanggan.
Kuadran III medium low priority (prioritas rendah/attributes to maintain), kinerja dan keinginan konsumen pada suatu variabel berada pada tingkat rendah, sehingga organisasi belum perlu melakukan perbaikan. Kuadran III adalah wilayah yang memuat faktor-faktor yang dianggap kurang penting oleh pelanggan dan pada kenyataannya kinerjanya tidak terlalu istimewa. Peningkatan variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran ini dapat dipertimbangkan kembali karena pengaruhnya terhadap manfaat yang dirasakan oleh pelanggan sangat kecil.
Kuadran IV reduce emphasis (pelayanan berlebihan/main priority), kinerja organisasi berada dalam tingkat tinggi tetapi keinginan konsumen akan kinerja dari variabel tersebut hanya rendah, sehingga organisasi perlu mengurangi hasil yang dicapai agar dapat mengefisienkan sumber daya organisasi. Kuadran IV adalah wilayah yang memuat faktor-faktor yang dianggap kurang penting oleh pelanggan dan dirasakan terlalu berlebihan. Variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran ini dapat dikurangi agar perusahaan dapat menghemat biaya.
Berdasarkan hasil observasi Peters dalam Tjiptono dan Diana (2003:106-107) menyimpulkan sepuluh kunci dalam pengukuran kepuasan pelanggan, yaitu:
- Frekuensi, setiap organisasi perlu melakukan survey formal mengenai kepuasan pelanggannya paling sedikit setiap 60 sampai dengan 90 hari sekali. Di samping itu juga perlu diadakan survey informal paling sedikit setiap bulan sekali,
- Format, sebaiknya yang melakukan survey formal adalah pihak ketiga di luar organisasi. Hasil yang diperoleh harus disampaikan kepada semua pihak dalam organisasi. Setiap keluhan dari pelanggan juga harus diketahui oleh semua jajaran organisasi, baik manajemen maupun pegawai,
- Isi (content), sebaiknya pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan-pertanyaan standar yang dikuantitatifkan,
- Desain isi, organisasi perlu melakukan pendekatan sistematis dalam memperhatikan setiap pandangan yang ada. Tidak ada satu pun ukuran atau instrumen survey yang paling baik untuk segala kondisi. Oleh karena itu diperlukan pula koordinasi dan cross checking terhadap berbagai ukuran yang ada,
- Melibatkan setiap orang, focus grup informal harus melibatkan semua fungsi dan level dalam organisasi. Dengan demikian mereka yang mengunjungi pelanggan haruslah terdiri dari semua fungsi, semua level (dari pegawai front line sampai dengan manajemen puncak). Demikian pula halnya dengan pemasok, grosir (wholesaler), dan anggota saluran distribusi lainnya harus berpartisipasi, baik secara formal maupun informal,
- Mengukur kepuasan setiap orang, organisasi harus mengukur kepuasan semua pihak, baik pelanggan langsung maupun pelanggan tak langsung, yaitu pemakai akhir dan setiap anggota saluran distribusi,
- Kombinasi berbagai ukuran, ukuran yang digunakan harus dibatasi pada skor kuantitatif gabungan terhadap a) beberapa individu, misalnya pegawai bagian laboratorium, b) kelompok (tim pengiriman atau pusat reservasi), c) fasilitas (kantor tata usaha, laboratorium), dan d) divisi (bagian kurikulum, peserta didik),
- Hubungan dengan kompensasi dan reward lainnya, hasil pengukuran kepuasan pelanggan harus dikaitkan dengan sistem kompensasi dan reward lainnya. Misalnya dijadikan variabel utama dalam penentuan kompensasi insentif dalam penjualan,
- Penggunaan ukuran secara simbolik, ukuran kepuasan pelanggan yang digunakan perlu dipasang dan ditempatkan di setiap bagian organisasi,
- D. Kebutuhan Pelanggan Internal dan Eksternal
Organisasi dengan demikian dapat memahami dengan baik perilaku pelanggan pada pasar sasarannya, sehingga organisasi dapat menyusun strategi dan program yang tepat dalam rangka memanfaatkan peluang yang ada, menjalin hubungan dengan setiap pelanggan dan mengungguli para pesaingnya. Untuk mengidentifikasi kebutuhan pelanggan dapat digunakan suatu pendekatan yang menurut Tjiptono dan Diana (2003:108) terdiri dari atas enam langkah, yaitu:
- Memperkirakan hasil,
- Mengembangkan rencana untuk mengumpulkan informasi,
- Mengumpulkan informasi,
- Menganalisa hasil,
- Memeriksa kesahihan (validitas) kesimpulan,
- Mengambil tindakan.
Untuk mendorong dan memudahkan komunikasi dapat digunakan mekanisme gugus mutu (quality circles), self managed team, tim antardepartemen, dan tim perbaikan. Mekanisme ini selain dapat memudahkan komunikasi di antara pelanggan dan pemasok internal, juga dapat meningkatkan kualitas. Selain mekanisme tersebut terdapat berbagai cara lain dalam mendorong komunikasi yang efektif, seperti pembicaraan santai saat istirahat dan pelatihan keterampilan berkomunikasi.
Komunikasi secara berkesinambungan dengan pelanggan eksternal juga sangat penting dalam pasar kompetitif. Strategi yang tepat dalam rangka pembentukan fokus pada pelanggan adalah dengan jalan membentuk mekanisme efektif untuk memudahkan komunikasi dan kemudian melaksanakannya. Salah satu alasan perlunya komunikasi secara terus-menerus adalah bahwa kebutuhan pelanggan selalu berubah sepanjang waktu dan bahkan perubahannya dapat berlangsung cepat. Melalui komunikasi ini organisasi dapat memantau setiap perkembangan dan perubahan yang terjadi. Bila hal ini tidak terantisipasi maka organisasi dapat kalah dalam persaingan. Faktor yang dapat menyebabkan timbulnya kebutuhan pelanggan yang baru antara lain teknologi baru, persaingan pasar, perubahan selera, pergolakan sosial, dan konflik (daerah, nasional, dan internasional).
Komunikasi yang baik dengan pelanggan harus mencakup pelanggan internal dan eksternal. Apa yang diterapkan dalam berkomunikasi dengan pihak luar juga dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan pihak internal organisasi. Komunikasi dengan para pegawai tidak cukup hanya dengan menyampaikan informasi seperti spesifikasi, standar, prosedur, dan metode kerja. Di samping itu ada hal lain yang penting dalam komunikasi. Menurut Tjiptono dan Diana (2003:109) hal tersebut adalah 1) perlu menyediakan sarana bagi pegawai untuk menyampaikan pandangan dan idenya, dan 2) perlu menjelaskan kepada para pegawai mengenai tindakan-tindakan manajemen yang menurut mereka berlawanan dengan kualitas.
- E. Pembentukan Fokus pada Pelanggan
- Visi, komitmen, dan suasana
- Penjajaran dengan pelanggan
- Kemauan untuk mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan pelanggan
- Memanfaatkan informasi dari pelanggan
- Mendekati para pelanggan
- Kemampuan, kesanggupan, dan pemberdayaan pegawai
- Penyempurnaan produk dan proses secara terus-menerus
Ketujuh karakteristik tersebut dapat digunakan sebagai pedoman dan membentuk fokus pada pelanggan. Pada tahap awal setiap organisasi perlu melakukan analisis diri. Dalam analisis ini akan ditentukan karakteristik mana yang sudah dan belum ada dalam organisasi. Organisasi perlu mewujudkan karakteristik yang belum ada tersebut sehingga fokus pada pelanggan dapat terbentuk.
- F. Fungsi Pengembangan Kualitas dan Implementasinya
Fokus utama QFD adalah melibatkan pelanggan pada proses pengembangan produk/jasa sedini mungkin. Filosofi yang mendasarinya adalah bahwa pelanggan tidak akan puas dengan suatu produk/jasa (meskipun suatu produk/jasa yang telah dihasilkan dengan sempurna) bila mereka memang tidak menginginkan atau membutuhkannya. Berdasarkan uraian tersebut disimpulkan, QFD merupakan praktik untuk merancang suatu proses sebagai tanggapan terhadap kebutuhan pelanggan. QFD menerjemahkan apa yang dibutuhkan pelanggan menjadi apa yang dihasilkan organisasi.
Aktivitas QFD menurut Tjiptono dan Diana (2003:113) adalah:
- Penjabaran persyaratan pelanggan (kebutuhan akan kualitas),
- Penjabaran karakteristik kualitas yang dapat diukur,
- Penentuan hubungan antara kebutuhan kualitas dan karakteristik,
- Penetapan nilai-nilai berdasarkan angka tertentu terhadap masing-masing karakteristik kualitas,
- Penyatuan karakteristik kualitas ke dalam produk/jasa,
- Perancangan, produksi/proses, dan pengendalian kualitas produk/jasa.
Fokus pada pelanggan, organisasi TQM merupakan organisasi yang berfokus pada pelanggan. QFD memerlukan pengumpulan masukan dan umpan balik dari pelanggan. Informasi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sekumpulan persyaratan pelanggan yang spesifik. Kinerja organisasi dan pesaing dalam memenuhi persyaratan tersebut dipelajari dengan teliti. Dengan demikian organisasi dapat mengetahui sejauh mana organisasi itu sendiri dan pesaingnya memenuhi kebutuhan pelanggan.
Efisiensi waktu, QFD dapat mengurangi waktu pengembangan produk/jasa karena memfokuskan pada persyaratan pelanggan yang spesifik dan telah diidentifikasi dengan jelas. Oleh karena itu tidak terjadi pemborosan waktu untuk mengembangkan ciri-ciri produk/jasa yang tidak atau hanya memberikan sedikit nilai (value) kepada pelanggan.
Orientasi kerja sama tim, QFD merupakan pendekatan kerja sama tim. Semua keputusan dalam proses didasarkan pada konsensus/kesepakatan dan dicapai melalui diskusi mendalam. Oleh karena itu setiap tindakan yang dilakukan diidentifikasi sebagai bagian dari proses, maka setiap individu memahami posisinya yang paling tepat dalam proses tersebut, sehingga pada gilirannya hal ini mendorong kerja sama tim yang lebih kokoh.
Orientasi pada dokumentasi, salah satu produk/jasa yang dihasilkan dari proses QFD adalah dokumen komprehensif mengenai semua data yang berhubungan dengan segala proses yang ada dan perbandingannya dengan persyaratan pelanggan. Dokumen ini berubah secara konstan setiap kali ada informasi baru yang dipelajari dan informasi lama yang lama dibuang. Informasi yang up to date mengenai persyaratan pelanggan dan proses internal, sangat berguna bila terjadi pergantian pegawai (turnover).
- Struktur dan Proses QFD
Gambar 2 Struktur QFD House of Quality (Tjiptono dan Diana (2003:116)
Tembok rumah sebelah kiri (Komponen 1) adalah masukan dari pelanggan. Pada langkah ini pemanufaktur berusaha menentukan segala persyaratan yang dikehendaki pelanggan dan berhubungan dengan produk/jasa. Agar dapat memenuhi persyaratan pelanggan, pemanufaktur mengusahakan spesifikasi kinerja tertentu dan menyaratkan pemasoknya untuk melakukan hal yang sama. Langkah ini digambarkan pada bagian plafon/langit-langit rumah (Komponen 2).
Tembok rumah sebelah kanan (Komponen 3) merupakan matriks perencanaan. Matriks ini merupakan komponen yang digunakan untuk menerjemahkan persyaratan pelanggan ke dalam rencana-rencana untuk memenuhi atau melampaui persyaratan tersebut. Komponen ini meliputi langkah-langkah seperti menggambarkan persyaratan pelanggan pada suatu matriks dan proses pemanufakturan pada matriks lainnya, memprioritaskan persyaratan pelanggan, dan mengambil keputusan mengenai perbaikan yang dibutuhkan dalam proses pemanufakturan.
Di bagian tengah (Komponen 4), persyaratan pelanggan dikonversikan ke dalam aspek-aspek pemanufakturan. Misalnya pelanggan menginginkan menginginkan lulusan yang berkompetensi dalam bidang kesehatan, maka persyaratan tersebut akan dikonversikan lembaga pendidikan dengan membuka dan mengembangkan jurusan kedokteran.
Bagian bawah rumah (Komponen 5) merupakan daftar prioritas persyaratan proses pemanufakturan. Sedangkan pada bagian atap (Komponen 6), langkah yang dilakukan adalah identifikasi dari proses/kegiatan organisasi yang berhubungan dengan persyaratan pemanufakturan. Pertanyaan yang akan dijawab dalam Komponen 6 adalah apa yang terbaik dapat dilakukan organisasi dengan mempertimbangkan persyaratan pelanggan dan kemampuan pemanufakturan organisasi?
Setiap matriks yang dibuat sebagai bagian dari proses QFD harus distrukturkan menurut bentuk rumah dalam Gambar 2. Tjiptono dan Diana (2003:117) mengemukakan siklus lengkap proses QFD terdapat 6 matriks seperti pada Gambar 3.
Gambar 3 Proses Quality Function Deployment (QFD) (Tjiptono dan Diana (2003:116)
Masing-masing matriks pada Gambar 3 memiliki manfaat tersendiri. Manfaat tersebut adalah:
a) Matriks 1, digunakan untuk membandingkan persyaratan pelanggan dengan ciri-ciri teknikal produk/jasa yang saling berhubungan,
b) Matriks 2, digunakan untuk membandingkan ciri-ciri teknikal pada Matriks 1 dengan teknologi terapan. Matriks 1 dan 2 menghasilkan informasi yang dibutuhkan guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yaitu 1) apa yang menjadi kebutuhan pelanggan? 2) persyaratan teknikal apa yang dibutuhkan sehubungan dengan ciri-ciri kebutuhan pelanggan? 3) teknologi apa yang dibutuhkan untuk memenuhi atau melampaui persyaratan pelanggan? dan 4) kegiatan apa yang dilaksanakan sehubungan dengan persyaratan teknikal?
c) Matriks 3, digunakan untuk membandingkan teknologi terapan dari Matriks 2 dengan proses pemanufakturan. Matriks ini bermanfaat dalam mengidentifikasi variabel penting dalam proses pemanufakturan,
d) Matriks 4, bermanfaat untuk membandingkan proses pemanufakturan dari Matriks 3 dengan proses pengendalian kualitas. Matriks ini menghasilkan informasi yang dibutuhkan untuk mengoptimalisasikan proses,
e) Matriks 5, dipergunakan untuk membandingkan proses pengendalian kualitas dan proses Statistical Process Control (SPC). Matriks ini memastikan bahwa parameter dan variabel proses yang tepat digunakan,
f) Matriks 6, digunakan untuk membandingkan parameter SPC dengan spesifikasi yang telah dikembangkan untuk produk/jasa akhir. Pada Matriks ini dilakukan penyesuaian untuk menjamin bahwa produk/jasa yang dihasilkan merupakan produk/jasa yang dibutuhkan pelanggan.
Proses QFD menjamin bahwa semua sumber daya digunakan secara optimal dalam rangka memaksimalkan peluang organisasi untuk memenuhi atau melampaui persyaratan pelanggan. Unsur yang paling penting dalam QFD adalah informasi dari pelanggan. Informasi dari pelanggan menurut Tjiptono dan Diana (2003:119) dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu.
a) Umpan balik, diperoleh setelah fakta terjadi. Hal ini berarti bahwa setelah suatu produk/jasa dikembangkan, dihasilkan, dan ditentukan harganya. Umpan balik kurang sesuai digunakan sebagai dasar dalam penentuan kesesuaian antara produk/jasa yang akan dihasilkan dan kebutuhan pelanggan pada awal proses QFD. Meskipun demikian umpan balik sangat bermanfaat dalam membantu memperbaiki produk/jasa apabila diproses lagi,
b) Masukan, diperoleh sebelum fakta terjadi. Dalam lingkungan pemanufakturan, hal ini berarti selama pengembangan produk/jasa. Pengumpulan masukan dari pelanggan selama pengembangan produk/jasa memungkinkan organisasi untuk membuat perubahan sebelum memproses dan memasarkan produk/jasa.
- Implementasi QFD
a) Membentuk tim proyek
Tim proyek dibentuk berdasarkan sifat proyek yang akan ditangani. Apakah tim tersebut menyempurnakan produk/jasa yang sudah ada atau mengembangkan produk/jasa baru? Bila produk/jasa yang sudah ada akan disempurnakan maka tim tersebut harus terdiri atas personil dari bagian hubungan masyarakat dan badan penjamin mutu. Bila produk/jasa baru akan dikembangkan maka wakil-wakil dari bagian riset dan pengembangan harus dilibatkan pula. Setiap anggota tim perlu memahami tujuan tim dan peranan mereka dalam tim tersebut.
b) Menyusun prosedur pemantauan
Manajemen perlu memantau setiap kemajuan yang dicapai tim proyek. Agar pemantauan dapat dilakukan dengan baik, maka dibutuhkan perencanaan dan pengembangan prosedur pemantauan. Ada tiga pertanyaan yang perlu diperhatikan dalam rangka melakukan hal tersebut, yaitu 1) apa yang akan dipantau? 2) bagaimana memantaunya? dan 3) berapa kali frekuensi pemantauannya?
c) Memilih proyek
Proyek perbaikan/penyempurnaan lebih baik dimulai pada permulaan daripada proyek pengembangan produk/jasa baru. Proyek perbaikan memiliki keuntungan berupa tersedianya informasi mengenai produk/jasa yang sudah ada dan telah ada pengalaman yang berhubungan dengan produk/jasa bersangkutan. Bila tim QFD baru menangani produk baru, maka setiap anggota tim akan menghadapi terlalu banyak hal yang baru, yaitu mengenai QFD itu sendiri, informasi dari pelanggan, dan informasi mengenai produk yang akan dikembangkan.
d) Menyelenggarakan pertemuan untuk memulai QFD
Pertemuan ini merupakan pertemuan resmi tim yang diadakan untuk pertama kalinya. Dalam pertemuan tersebut beberapa hal yang perlu dilaksanakan adalah 1) mengupayakan agar semua peserta memahami misi tim proyek tersebut, 2) mengupayakan agar semua peserta memahami peranannya masing-masing dan peranan rekan-rekannya, dan 3) menyusun parameter pertemuan (waktu dan frekuensi pertemuan).
e) Melatih tim
Sebelum memulai proyek, semua anggota tim perlu diberi pelatihan asas-asas QFD. Anggota tim perlu mempelajari cara menggunakan berbagai alat kualitas dan alat-alat spesifik seperti diagram dan matriks. Selain itu setiap anggota tim juga harus memahami cara kerja QFD sebagai suatu proses (Gambar 3).
f) Mengembangkan matriks
Bila setiap anggota tim telah memahami QFD, alat-alat QFD, dan format suatu matriks QFD (Gambar 3), maka proses pengembangan matriks-matriks dapat dimulai. Siklus proses QFD yang lengkap terdiri dari 6 matriks yang masing-masing terstruktur berdasarkan spesifikasi pada Gambar 3.
Matriks pertama membandingkan persyaratan pelanggan dengan ciri-ciri teknikal produk/jasa. Hasil dari pengembangan matriks pertama adalah suatu ringkasan kebutuhan/persyaratan pelanggan dan suatu dokumen konsep yang menggambarkan ciri-ciri produk/jasa yang harus ada agar dapat memenuhi harapan pelanggan.
Matriks kedua membandingkan ciri-ciri teknikal dan teknologi terapan. Matriks ketiga membandingkan teknologi terapan dan proses pemanufakturan. Matriks keempat membandingkan proses pemanufakturan dan proses pengendalian kualitas. Matriks kelima membandingkan proses pengendalian kualitas dan pengendalian proses statistika. Sedangkan matriks terakhir membandingkan pengendalian proses statistika dan spesifikasi produk akhir. Dalam mempersiapkan semua matriks ini, alat-alat spesifik QFD digunakan sesuai dengan kebutuhan.
sumber : https://utuhslamet.wordpress.com/2010/06/30/fokus-pada-pelanggan-dalam-sistem-pendidikan/
Tugas 8 (Produk Dalam Negeri dengan Produk Luar Negeri)
Produk Dalam Negeri dengan Produk Luar Negeri
Perekonomian Indonesia sedang dalam masa perkembangan yang begitu pesat. Dengan target pasar lebih dari 260 juta orang dari Sabang sampai Merauke, bukan hanya perusahaan lokal yang ingin mengadu untung di tanah Indonesia, namun juga berbagai perusahaan dari luar negeri. Bahkan dalam kenyataan yang terjadi, perusahaan lokal justru banyak yang tergusur dengan keberadaan perusahaan luar negeri.
Banyak argumen mengapa perusahaan lokal mengalami kemunduran seperti
ini, namun mungkin pengaruh kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap
produk lokal tidak lebih baik daripada produk luar bisa jadi faktor yang
paling kuat. Berikut beberapa hal mengapa produk lokal dianggap tidak
lebih baik daripada produk luar :
1. Kualitas Produk
Produk luar senantiasa dianggap selalu berfokus pada kualitas, baru
kemudian kuantitas. Sementara produk lokal senantiasa dianggap berfokus
pada kuantitas, baru kualitas. Hal ini mungkin tidak sepenuhnya salah,
karena banyak sekali produk asal jadi yang bahkan ketahuan belangnya
saat perusahaan pembuatnya diinspeksi mendadak.
2. Kemasan Produk
Masyarakat Indonesia berani membayar mahal untuk membeli produk luar,
namun tidak untuk produk lokal. Maka wajar perusahaan lokal berjuang
dengan berbagai cara agar harga produknya dimasyarakat tidak terlampau
mahal, setidaknya tidak lebih mahal daripada produk luar. Salah satu
caranya adalah dengan mengurangi tampilan manis pada kemasan produk.
Sementara produk luar bisa jadi lebih banyak mengeluarkan biaya di
kemasan yang manis daripada produknya sendiri. Namun siapa sih yang
lebih memilih kemasan kurang cantik jika ada kemasan cantik, apalagi
kemasan cantiknya adalah produk luar, harga berapapun berani deh.
3. Promosi Produk
Promosi di televisi memang mahal. Tapi sesuai dengan jangkauan penonton
yang ada dari ujung timur hingga barat Indonesia. Semakin banyak
promosi produk dilakukan via televisi atau media lain, bisa jadi alasan
mengapa produk dari top brand (lokal dan non-lokal) lebih digemari
daripada produk yang dipromosikan dari mulut ke mulut, atau hanya berupa
poster. Terlebih banyak juga top brand yang melakukan promosi via
aktivitas yang melibatkan orang banyak seperti jalan sehat atau tes
darah gratis, yang kemudian pesertanya diberikan souvenir promosi
setelah mengikuti kegiatan tersebut. Ini yang masih dianggap perusahaan
lokal sebagai alokasi buang-buang uang, padahal sudah banyak perusahaan
yang melayani pembuatan souvenir promosi sesuai budget seperti
perusahaan yang satu ini.
4. Lokasi Berjualan
Kebanyakan produk luar dikemas khusus untuk dijual di gerai-gerai
tertentu, mereka biasanya tidak menjamin kualitas dari produk yang
dijual selain di gerai mereka, sehingga konsumen pun lebih senang
membeli langsung dari gerainya, meskipun harga di gerai tersebut tidak
lebih murah daripada harga di pedagang eceran. Namun banyak perusahaan
Indonesia yang lebih menjauhi kesan premium dan menyebarkan penjualan
hingga ke pelosok negeri, dan ini tidak salah. Namun jika kemudian
konsumen dihadapkan dengan produk yang biasa ditemui di eceran dan yang
dijual hanya digerai-gerai tertentu, saya pikir lebih banyak konsumen
yang lebih memilih produk premium yang dijual di gerai tertentu.
sumber : http://www.umm.ac.id/en/detail-194-mengapa-produk-luar-lebih-disukai-daripada-produk-dalam-negeri-opini-umm.html
Langganan:
Postingan (Atom)